Archive for June, 2008

Bagaimana mengungkapkan apa yang kita rasakan supaya orang lain juga merasakannya?

Bagaimana menyampaikannya supaya tidak terjadi misinterpretasi dan menimbulkan kesalahpahaman?

Karena katanya kalau sudah menyangkut perasaan, hal-hal jadi lebih sensitif. Harus ekstra hati-hati bersikap dan berbicara. Supaya apa yang diungkapkan tidak diterjemahkan lain dan jadi salah arti, dan menimbulkan apresiasi yang tidak diharapkan.

Orang bisa kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan perasaannya… dan akhirnya harnya bisa terlarut dalam perasaannya sendiri…. Hmmmm…..

  • Share/Bookmark

The word sensation could really mean something to someone. I never thought that way when I chose that word in my previous post.

Certain kinds of feeling that come to your sense and actually bring tremendous sensation in your heart, your mind, your feelings. Maybe I haven’t felt that much when I wrote it… but now I really consider this, and deeply think… And I realize that I really feel those kinds of “sensation”. Somethings that maybe you cannot express by words or anything, but only you can feel, deep inside your heart.

  • Share/Bookmark

This is what John Hagee said :

Ada orang-orang muda yang sedang mabuk cinta berkata, “Saat saya ada di dekat pacar saya, saya tak dapat bernafas.” Itu bukan cinta, itu asma.

Yang lain berkata, “Saat saya di dekatnya, saya tak dapat melihat dengan jelas.” Itu bukan cinta. Anda butuh kacamata. Datanglah ke tukang kacamata.

Dan banyak lagi mitos tentang cinta (yang tidak benar). Misalnya, jika cinta itu buta, mengapa banyak pria terpikat pada wanita cantik yang sama?

Cinta itu tidak buta. Dan cinta bukan apa yang Anda rasakan. Cinta adalah apa yang Anda lakukan. Perbuatan adalah bukti cinta, bukan perkataan.

Dan inilah sebuah kalimat yang saya dengar dari film “Tentang Cinta” …

“Cinta itu tidak buta, dia hanya memahami”

  • Share/Bookmark

Sudah lama dan aku sudah hampir lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Belakangan aku mengijinkan diriku untuk kembali merasakan sensasinya. Berbagai macam rasa yang kembali kurasakan getarannya: senang, gelisah, bete, kecewa, sedikit jealous, deg2an, sekaligus berbunga-bunga.

Tapi jujur aku juga belum yakin apa ini sebenarnya. Mungkin juga hanya euforia sesaat. Ya, aku senang memikirkan seseorang; ya, hatiku melonjak mendengar dering sms; ya, aku gelisah menantikan balasannya; ya, jantungku berdebar sedikit lebih kencang mendengar dering telponnya ; ya, aku senang mendengarkan suaranya…

Ah… mungkin juga ini hanya kegilaanku. Mencoba sesuatu jauh di luar kebiasaanku selama ini. Jadi sesungguhnya aku juga belum tau, am I in love, or am I just insane??

  • Share/Bookmark

Setelah sekian lama tidak mengunjungi angkringan di sebelah utara Stasiun Tugu itu, akhirnya kembali aku menyambangi tempat itu, yang sekarang penampilannya menjadi jauh berbeda setelah bangunan2 permanennya dibongkar sehingga jadi lebih terbuka dan luas – meskipun kesannya jadi lain dari waktu2 sebelumnya kami sering menghabiskan waktu di tempat itu.

Beberapa saat bercakap2 sama W***, mulailah jam di mana para pengamen di daerah itu mulai bermunculan. Adalah seorang ibu ini, dengan icik2nya, yang selalu menyanyikan lagu shalawat dengan vokal yang lemah dan gak jelas, serta mengumpulkan karet gelang yang berceceran di mana2… “Wah… udah lama gak keliatan mbak sama mas nya…” “Iya nih Bu…” Sejurus kemudian ia pun mulai menggumamkan lagu yang sama itu. Entah kenapa aku tergerak untuk memberi lebih dari biasanya. Dan dia pun menerima dengan bahagia.

Beberapa saat setelah ibu itu meninggalkan tempat kami, datanglah si bocah tengil – siapapun pelanggan angkringan di situ pasti mengenali bocah yang satu ini. Rada nyolot, tapi playlist lagunya selalu up to date dengan lagu2 hits masa kini, meskipun dinyanyikan kadang rada asal2an. Agak mengendap dia berbisik, “Kok kae entuke akeh?”

Kami berdua berpandangan.. “Piro?”

“Kae kok entuk sewu??”

“Njuk..??” berbarengan kami bertanya.

“Yo.. meri no….” setengah merajuk dia berkata.

“Yo kowe nyanyi maneh, ngko tak nehi…” kataku.

Mulailah dia dengan aksinya menyanyikan lagu…. apa, aku juga gak tau, lagu lumayan baru lah pokoknya. Demikian serius dan panjangnya ia menyanyi sampai tidak bersedia menjawab pertanyaanku di tengah2 lagunya, “Kelas piro kowe saiki, Le?”

Dia tidak peduli dengan pertanyaanku, dan terus menyanyi (meski cuma refrain yang diulang2). Hmmm…. sepertinya dia bersungguh2 menginginkan seribu perak yang kujanjikan itu.

Akhirnya kuulurkan tanganku dan memberikan selembar ribuan itu ke tangan bocah itu. Dia menyeringai kegirangan. Kembali ku ulang pertanyaan yang sama, “Kelas piro saiki kowe, Le?”

“Ra sekolah….” jawabnya sambil lalu seraya beranjak pergi, bahkan tanpa ucapan terima kasih.

Kami berdua tertawa….

Lalu… apa intinya dari cerita ini? Hmm…. I have no idea… Pendapat Anda lah….silahkan…

  • Share/Bookmark
Archives