Bertemu dengan teman lama, seorang gadis muda, masih kuliah semester 2. Mendengarkannya bercerita tentang kegelisahannya menjalani kisah cintanya. Bla..bla..bla… Berbinar-binar ia berkisah tentang rencana bertunangan di tahun yang akan datang, sekaligus ketakutannya akan ketidaksetujuan salah seorang anggota keluarganya. Bla..bla..bla.. “CInta yang lalu” pun bicara panjang lebar dengan nasihat ini dan itu.
Akhirnya saya nyeletuk dengan kalimat bijak dari antah berantah, tanpa bermaksud mematahkan semangat ataupun memadamkan geloranya yang sedang membara.
“Kadang bisa terjadi saat kamu sudah menjalaninya, dan ketika hampir tiba di ujung jalan itu, ternyata yang terjadi sangat jauh berbeda dari apa yang pernah kamu bayangkan sebelumnya. Bahkan mungkin kamu akan bertanya, ‘Apa ini, Tuhan?’”
(Duuuhh… secara, pengalaman pribadi…!!)
Gadis itu agak kebingungan, tapi “Cinta yang lalu” menyambung dengan ini dan itu.
Memang ada saatnya diriku pernah berada pada situasi itu. Berbunga-bunga dan berbinar-binar dengan harapan akan apa yang ku kira akan kujelang di depan. Dan pada saat akhirnya ternyata kenyataannya sangat jauh berbeda dari apa yang pernah kubayangkan, kurencanakan, kuharapkan, …aku bertanya, “Tuhan, yang dulu2 itu apa??”
Tuhan masih sayang banget sama aku. “Sorry, Kiddo, time’s up… I’ll prepare a better one for you.”
Tuhan itu panjang sabar dan berlimpah kasih setia, tapi Dia juga punya planning, punya time table, punya deadline. Sudah cukup waktu yang diberikan sekian lama just to “being nothing”… time’s up…
Dan aku sangat bersyukur. Looking forward for the best which is yet to come