Hari Rabu, 2 Juli ’08 kemarin, Classer Independent Community mengadakan talkshow “Indieindo” di Griya Kedaulatan Rakyat Jl. Mangkubumi, Yogyakarta. Acara ini didukung oleh Class Mild, Kedaulatan Rakyat, Radio Swaragama FM, dan GM Production, menghadirkan mas Andika, produser Mixpro Jogja, sebagai pembicara utama. Acara yang dijadwalkan dimulai pukul 19.00 itu baru dimulai kira2 hampir pukul 8 malam. Dimeriahkan juga oleh 3 band indie yaitu Komix (Jogja), Kartos (Wonosobo), dan Oh, Nina! (Jogja).

Mas Andika yang telah bertahun-tahun bergelut di dunia industri musik banyak berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang bagaimana sih industri musik Indonesia sekarang ini. Mungkin gak terlalu banyak juga yang bisa disampaikan, secara waktu juga terbatas. Hanya beberapa orang saja yang mengajukan pertanyaan, mungkin karena yang disampaikan mas Andika sudah cukup banyak dan gamblang.

Dari sharing-sharing saya dengan beberapa teman, baca buku, majalah, juga dari apa yang disampaikan mas Andika, memang era musik saat ini sudah bergeser. Menjual musik lewat hardcopy CD/kaset bukan lagi target utama industri rekaman saat ini. Secara hari gini juga banyak orang yang sudah gak punya cassete player lagi. CD… boleh lah. Tetap saja yang paling banyak beredar adalah dalam bentuk digital. Penghasilan major label dari hasil penjualan kaset/CD turun drastis. Namun pengusaha rekaman dan artis bisa jadi kaya raya bila lagu mereka di-download sebagai ring back tone sampai jutaan kali! Royalti yang diterima dari hasil penjualan 1 keping CD album yang berisi 10 lagu kira-kira sama dengan 1 lagu yang diunduh sebagai RBT, padahal durasinya cuma 30-40 detik, per lagu! Satu lagu RBT cuma aktif selama 1 bulan, dan bisa diunduh berulang2. Sementara 1 keping CD cuma dibeli 1 kali (kecuali sampe rusak ato ilang dan musti beli lagi). Bayangkan perbandingan yang sangat signifikan tersebut!

Menurut mas Andika, major label di Jakarta setiap harinya rata2 bisa menerima 30-40 demo dalam sehari. Padahal dalam 1 th mereka hanya bisa me-launch 15 atau paling banyak 20 band/artis baru. Ada sekitar 10 major label di Jakarta, jadi berapa demo yang masuk setiap hari, setiap bulan, setiap tahun??? Kalau hanya 15 yang bisa “jadi” artis, kemana ratusan lainnya? Seorang teman finalis Indonesian Idol2 berkata bahwa CD2 demo tersebut hanya nanggrok di pos satpam… (ckckck…). Kebayang gak sih, susah-payahnya teman2 yang berjerih lelah membuat demo tersebut dengan harap2 cemas bisa diterima oleh tangan produser, tapi ujung2nya cuma berakhir di pos satpam atau paling banter sampe front office. MixPro Jogja juga mengalami hal yang sama. Dalam sebulan mereka menerima 15-20 demo. Sedangkan per tahunnya hanya mampu memproduksi 5-6 album saja. Bagaimana nasib 200 demo lainnya?

Makanya jalur indie sekarang jadi pilihan. Bagaimana sih kriteria indie itu? Wah… definisinya bisa macem2 dan beda semua gak ada hubungannya. Tapi menurut saya gak perlu lah berdebat soal major atau indie. Teman2 yang “idealis” di indie juga gak perlu mencibir pada mereka yang “mengaku” indie tapi masih terlihat “pasaran”. Yang penting kita bermusik, berkarya, dan supaya karya kita juga bisa dinikmati banyak orang.

Bagaimana supaya karya kita bisa didengar banyak orang? Di era informasi dan digital sekarang ini media internet memang paling tepat. Hal ini pernah disampaikan oleh mas Anang Hermansyah, dan diiyakan juga sama mas Andika. Contohnya saja Oh, Nina! band yang juga mengisi acara semalam, mereka sudah berhasil masuk di album kompilasi sebuah label dari Spanyol, karena “ditemukan” di YouTube. Dan sudah banyak terjadi juga pada penyanyi/band lain yang “ditemukan” oleh produser besar di YouTube.

Penyampaian informasi dan promosi di dunia internet memang lebih memungkinkan saat ini, oleh siapa saja, dengan jangkauan yang lebih luas, target yang dapat ditentukan, dan hasil yang sangat terukur. Seperti yang disampaikan mas Andika, MixPro tidak menjanjikan untuk mempromosikan artisnya dengan mengadakan tour ke beberapa kota, bla bla bla… Tapi lebih kepada publikasi yang saya sebutkan barusan. Dengan biaya promosi yang jauh lebih kecil dibandingkan promo secara offline, mampu menjangkau wilayah yang tak terbatas letak geografis.

Untuk itulah 1000indie hadir di kancah permusikan Indonesia. Untuk memberikan wadah, sarana dan dukungan bagi para musisi, penyanyi, atau siapapun praktisi musik yang ingin lebih melebarkan sayapnya.

Selamat datang di dunia baru musik Indonesia…!!

Serba-serbi 1000indie klik di sini.

  • Share/Bookmark

7 Responses to “Dari Talkshow “Indieindo” @ KR (2Jul’08) & Online Music Promotion”

  • Wah… seminarnya itu kemarin ya jeng…
    jadi gelo ane tidak hadir… maklum perut… bibir dan kepala jadi tidak sinkron….

    cuplik dikit mengenahi RBT….

    Dari sesi produksi… RBT bikin anyel… Kita yang notabene sering bercinta dengan alat2 recording… menggunakan alat2 dan software top dunia dan mencari sound sebagus mungkin…

    eh lakunya malah dari RBT saja… yang kualitas suaranya teng krusek… jauh dari kualitas CD dan hargnya mahal (rp 7000an dengan durasi 30 dtk dan dibtasi penggunaannya),…

    bisnis yang aneh

  • mpeb:

    Begitulah kenyataannya…

  • wah wahhh.. si neng ini emang dunianya di musik… top..top.. abisss… enjoy terus yo jeng.. semangat.. dan cepetan kirim undangan.. (weh.. kok njuk undangan,???? kekekeke..)

  • mpeb:

    Undangan opo je?? Konser musik?? Wakakakak…. :D

  • undangan konser musik yang ada pelaminannya…

  • How soon will you update your blog? I’m interested in reading some more information on this issue.

Leave a Reply

Archives