Hari kedua, sudah hampir tengah malam sekarang. Sebenernya mata udah berat banget. Meskipun sudah ditemani secangkir brown coffee, tetep gak ngaruh juga sih. Tapi tetep harus membuka laptop dan online menyelesaikan proses pindahan hosting yang aku kira sudah selesai tapi ternyata masih belum beres… hufffhh….
Hari ini akhirnya aku berhasil melaksanakan rencanaku untuk bersih2 rumah di kawasan Karangkajen yang dipercayakan kepadaku sementara penghuninya sedang mencari inspirasi keluar kota (halaahhh…). Seperti janji sang empunya bahwa saya diperbolehkan memborong koleksi DVD-nya yang katanya ada sekitar 200-an. Dan bener aja…akhirnya saya pulang nenteng seplastik besar koleksi DVD, gak tau ada berapa judul film (itu aja udah dipilih2 yang saya suka atau tertarik pengen nonton). Beberapa di antaranya adalah koleksi favorit saya; ada Blood Diamond, Bourne Ultimatum, 300, Ocean’s 13, Pirates Carribean, etc. Hmmm, thanks a lot yah darling…
Malamnya acara kumpul2 bersama rekan2 Jogja Madrigal Voice. Kali ini lebih istimewa dengan kehadiran Bp. Bakdi Sumanto spesial buat kita (kalau pengen tau siapa Bapak Bakdi Sumanto ini, silahkan googling aja, susah ngejelasinnya
). Beliau ini adalah tokoh sastra, mengajar di pasca sarjana ISI, pernah terlibat di Bengkel Teater bersama WS Rendra, dan segambreng resume lainnya. Dan “kebetulan” beliau ini adalah ayahanda dari mas Krishna, director-nya JMV (yang ngomong kebetulan ini mas Krishna sendiri, hehe…).
Sungguh suatu privilege bisa berdiskusi dengan beliau. Amazed aja mendengar penjelasan yang filosofis tentang seni pertunjukan, brasa ikut kuliah pasca sarjana deh, wekekekekk… Tapi banyak yang saya pelajari dari pertemuan singkat tersebut. Tentang menginterpretasi karya sastra; bagaimana suatu karya seni bisa disampaikan ke audience yang notabene mempunyai storage yang beragam dalam otaknya; serta sekelumit pengalaman beliau dalam berkesenian.
Sedikit catatan saja dari hasil penampilan JMV hari Jumat, 6 Agustus 2010 yang lalu di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta. Apapun tanggapan dan masukan yang kami terima, positif atau negatif, memuji atau mencela, atau bahkan yang terbengong-bengong gak donk have no idea at all…semua kami terima sebagai apresiasi yang jujur atas sebuah presentasi karya seni. Dan merupakan suatu kepuasan tersendiri tatkala kami berhasil menampilkan suatu karya baru yang lain dari yang lain. Masih tetap menyimpan harapan dan semangat serta cita2 bahwa JMV akan menjadi jauh lebih baik di masa yang akan datang. Memang butuh kerja keras dan komitmen untuk mencapainya. Apalah artinya untuk membayar harga sebuah impian?