Kegigihan Bocah Pengamen

Setelah sekian lama tidak mengunjungi angkringan di sebelah utara Stasiun Tugu itu, akhirnya kembali aku menyambangi tempat itu, yang sekarang penampilannya menjadi jauh berbeda setelah bangunan2 permanennya dibongkar sehingga jadi lebih terbuka dan luas – meskipun kesannya jadi lain dari waktu2 sebelumnya kami sering menghabiskan waktu di tempat itu.

Beberapa saat bercakap2 sama W***, mulailah jam di mana para pengamen di daerah itu mulai bermunculan. Adalah seorang ibu ini, dengan icik2nya, yang selalu menyanyikan lagu shalawat dengan vokal yang lemah dan gak jelas, serta mengumpulkan karet gelang yang berceceran di mana2… “Wah… udah lama gak keliatan mbak sama mas nya…” “Iya nih Bu…” Sejurus kemudian ia pun mulai menggumamkan lagu yang sama itu. Entah kenapa aku tergerak untuk memberi lebih dari biasanya. Dan dia pun menerima dengan bahagia.

Beberapa saat setelah ibu itu meninggalkan tempat kami, datanglah si bocah tengil – siapapun pelanggan angkringan di situ pasti mengenali bocah yang satu ini. Rada nyolot, tapi playlist lagunya selalu up to date dengan lagu2 hits masa kini, meskipun dinyanyikan kadang rada asal2an. Agak mengendap dia berbisik, “Kok kae entuke akeh?”

Kami berdua berpandangan.. “Piro?”

“Kae kok entuk sewu??”

“Njuk..??” berbarengan kami bertanya.

“Yo.. meri no….” setengah merajuk dia berkata.

“Yo kowe nyanyi maneh, ngko tak nehi…” kataku.

Mulailah dia dengan aksinya menyanyikan lagu…. apa, aku juga gak tau, lagu lumayan baru lah pokoknya. Demikian serius dan panjangnya ia menyanyi sampai tidak bersedia menjawab pertanyaanku di tengah2 lagunya, “Kelas piro kowe saiki, Le?”

Dia tidak peduli dengan pertanyaanku, dan terus menyanyi (meski cuma refrain yang diulang2). Hmmm…. sepertinya dia bersungguh2 menginginkan seribu perak yang kujanjikan itu.

Akhirnya kuulurkan tanganku dan memberikan selembar ribuan itu ke tangan bocah itu. Dia menyeringai kegirangan. Kembali ku ulang pertanyaan yang sama, “Kelas piro saiki kowe, Le?”

“Ra sekolah….” jawabnya sambil lalu seraya beranjak pergi, bahkan tanpa ucapan terima kasih.

Kami berdua tertawa….

Lalu… apa intinya dari cerita ini? Hmm…. I have no idea… Pendapat Anda lah….silahkan…

8 Responses to “ “Kegigihan Bocah Pengamen”

  1. nenk says:

    oohh… iya..iya.. aku juga sering liat ibu2 yang suka ngumpulin karet. Katanya buat dijual lagi, siapa tau bisa untuk ongkos naek haji katanya. Haha.. Dulu klo diajakin W*** kesana, pasti ibu itu nongol sambil ngelempar senyum manieznya ke W*** (“koq tumben ra karo mbak’e mas…” geetoo kalimatnya). Nah loh… mbak siapakah gerangan??? siapa lagee klo bukan eng ing eng… hahahahaha……

  2. mpeb says:

    Naik haji??? Wah, ternyata iman ibu ini besar juga ya… ngumpulin karet berapa container tuw…??
    Btw, kalo siang ibu ini ngamen ke mana2 lho, kadang sampe Concat, sampe Sonopakis segala… Mungkin buat naik haji itu tadi…

  3. ronald says:

    emang kita pernah juga ketemu kenal ma mereka tapi akankan malam2 itu ter ulang kembali…?

  4. mpeb says:

    Pasti dunk….

  5. ronald says:

    dimana hari itu amat sangat berharga bagi ku dan tak tergantikan…..sampai nanti aku kembali ke kota mu

  6. ronald says:

    mau eng ing eng atau gimana..?tapi yang penting cinta banggeetttt ma tuh mbak

  7. ronald says:

    tuh mbak teramat special banget buat kehidupan gw

  8. ronald says:

    angkringan itu punya banyak makna buat aku dapa malam itu..(malam ini malam terakir buat kita)geetuu neng
    jadi please suport us ya neng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge