
Kontroversi seputar film box office 2012 garapan Roland Emmerich membuat saya mulai muak. Apalagi komentar2 gak nyambung dilontarkan oleh orang2 yang nonton filmnya pun enggak. Belum2 udah komentar film ini menggoyahkan iman lah, mengaburkan kepercayaan lah, pelecehan lah, bla bla bla… Bagi penggemar film seperti saya tentunya tahu bahwa film genre seperti ini atau ide cerita yang demikian bukanlah yang pertama dituangkan dalam karya layar lebar. Di antaranya (mungkin Anda pun sudah menyaksikan) ada Deep Impact, Armageddon, 10.5, The Core, The Day After Tomorrow, Knowing, dll. Lalu kenapa sekarang jadi film ini yang diributkan ya?
Film yang sudah lama ditunggu-tunggu kehadirannya sejak beberapa bulan yang lalu ini menurut saya sendiri tidak seheboh yang saya bayangkan sebelumnya. Ya, visual effect-nya memang luar biasa. Tapi adegan2 yang seharusnya ‘menegangkan’ malah justru terlihat seru-seruan seperti film petualangan Indiana Jones dan terlalu penuh dengan kebetulan. Dan selebihnya seperti tipikal film Hollywood yang lain. Namun film ini cukup menghibur, dan bila kita mau melihat sisi positifnya, pasti selalu ada nilai dan hikmah yang bisa dipelajari dari kisah tersebut.
Saya setuju dengan pendapat bahwa tidak ada seorang pun yang bisa meramalkan hari kiamat. Betul sekali. Terlepas dari segala perhitungan astronomi, penanggalan suku Maya, ramalan Nostradamus, terawangan Mama Laurent, perkiraan adanya badai matahari, lintasan planet Nibiru, perhitungan para ilmuwan dan sebagainya, tetap tak ada seorang pun yang bisa memastikan kapan dan bagaimana tepatnya semua itu bakal terjadi.
Gembar-gembor and resensi yang menyatakan bahwa film ini bercerita tentang hari kiamat itulah yang sebenarnya menyesatkan. Dan kalau orang yang sudah menonton filmnya masih juga berkomentar, “Kiamat kok masih ada yang selamat?” … wah, itu lebih gak nyambung lagi. Peristiwa tersebut hanyalah suatu proses di mana bumi mencapai kesetimbangannya kembali setelah kondisi yang sangat labil saat ini – sebagaimana yang terjadi pada jaman es ataupun jaman Nabi Nuh. Semua bisa dijelaskan dengan sangat ilmiah dan bisa dikorelasikan dengan kondisi yang ada sekarang serta hasil penelitan dan perhitungan para ilmuwan. Jadi itu belum kesudahannya. Kalau kiamat, maka bukan hanya bumi, tetapi seluruh alam semesta ini sudah tidak ada lagi.
Mengenai “apocalypse day” itu sendiri, tetap tak ada seorang pun bisa memastikan kapan dan bagaimana hal itu terjadi. Manusia dengan segala akal budinya bisa memperhitungkan dan memperkirakan, tetapi semuanya tetap berada di tangan Sang Kuasa. Banyak tanggal yang sudah diperkirakan sebagai “the day”, dan semua tanggal itu berlalu tanpa kejadian apapun. Berbagai sekte dan pengikutnya telah terjebak dalam keyakinan mereka yang tak berdasar. Firman Tuhan sendiri mengatakan, “Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri” (Matius 24:36, Markus 13:32).
Bagi saya yang terpenting bukanlah kapan dan bagaimana hal itu akan terjadi secara pasti. Tetapi bilamana saat itu tiba, siapkah kita menghadapinya? Seandainya permukaan bumi rengkah akibat gempa maha dahsyat, menghancurkan dan menelan segala yang Anda miliki; bara api raksasa muntahan gunung berapi menghanguskan tempat tinggal Anda; gelombang tsunami setinggi gunung di hadapan Anda siap menelan semua yang ada di permukaan tanah… Apa yang Anda pikirkan? Apa yang Anda lakukan? Seberapakah Anda rela membayar demi keselamatan Anda? Berapakah harga keselamatan Anda? 1 milyar euro? Ataukah sebuah pengampunan terhadap seseorang yang telah menyakiti Anda? Pemulihan hubungan dengan anggota keluarga atau orang yang Anda kasihi? Atau mungkin kerelaan meninggalkan suatu dosa dan kebiasaan buruk? Dan yang terutama iman dan pengakuan akan satu-satunya Jalan dan Kebenaran dan Hidup yang memberi keselamatan itu sendiri?
Bila Anda menyadari bahwa ajal segera tiba dan tidak ada satu tempat lain pun ke mana Anda bisa lari, apa yang akan Anda lakukan? Saya melihat reaksi yang berbeda dari beberapa tokoh dalam film ini. Setelah memberitahukan hasil perhitungannya kepada rekan ilmuwannya di Amerika, Dr. Satnam berusaha menyelamatkan diri bersama keluarganya ke tanah yang lebih tinggi. Namun saat gelombang tsunami akhirnya menyapu tanah India, dia menghadapi akhir hidupnya bersama orang-orang yang dikasihinya. Pemusik jazz Mr. Helmsley telah mengucapkan selamat tinggal kepada anaknya Dr. Adrian Helmsley. Namun di saat2 terakhir di atas kapal pesiar mewah di tengah samudera itu, dia menenggak double whiskey, suatu hal yang sudah 25 tahun ditinggalkannya, mungkin sambil berpikir, Ah… udah mau mati ini… Bagaimana dengan Presiden Wilson serta Perdana Menteri Italia? Apakah keputusan ketidakikutsertaan mereka dalam bahtera itu adalah suatu bentuk kepasrahan? Presiden Wilson telah memilih yang terbaik. Dia memilih untuk membesarkan hati rakyatnya, membuka istananya bagi mereka yang membutuhkan, memberikan perhatian bagi mereka yang terluka dan terhilang. Sampai akhirnya bencana menyapu habis Gedung Putih, Washington D.C. serta seluruh daratan Amerika, sang Presiden ada dalam kondisi terbaik di akhir hayatnya.
Apa yang terjadi jika ajal menjemput secara tiba-tiba justru pada saat Anda sedang dalam keadaan tidak baik, menyimpan dendam dan kemarahan, atau bahkan sedang berbuat dosa? Firman Tuhan berkata bahwa hari Tuhan akan datang seperti pencuri (1Tesalonika 5:2; 2Petrus 3:10; Wahyu 3:3; Wahyu 16:15). Terjemahan versi The Message mengatakan, “I’ll return when you least expect it, break into your life like a thief in the night” (Revelation 3:3).
Bilamana saat itu tiba… Apa yang sedang kita kerjakan? Apa yang sudah kita kerjakan? Apa yang belum atau tidak kita kerjakan? Sudahkah kita mencapai tujuan hidup yang Tuhan tetapkan bagi kita? Ke mana kita akan pergi?
Pesan film ini bukanlah untuk diributkan mengenai kapankah kiamat itu akan tiba. Atau justru membuat kita tidak berbuat apa-apa dengan berpikiran, Ah… udah mau kiamat ini… Entahkah hari itu akan datang 3 tahun lagi, 10, 50, 100 tahun, atau bahkan mungkin besok, senantiasa bertanyalah kepada diri Anda sendiri: When the time finally comes, are we ready?
hooo… setuju… ada film baru aja kok heboh
soal film fiksi bertema akhir zaman, masih banyak yang lain ah yang bagusan… walaupun ceritanya dibikin seolah-olah kompleks, 2012 kebanyakan kartun boongannya dan predictable banget
aku cuma agak heran, kenapa 2012 yang diributin sampe dikecam ulama segala… film ya film… ceritanya juga rekayasa untuk sekadar menghibur… kayak gak ada kerjaan yang lebih penting aja
in any case, fenomena 21-12-2012 tetap menarik untuk diteliti… bukan karena aku percaya mitosnya, tapi karena menurutku tetap mengagumkan bahwa peradaban maya kuno (yang katanya awal kalendernya adalah ketika selamat dari air bah nuh) punya konsep penanggalan yang sangat maju ke depan dan bahwa prediksi akhir long count mereka bertepatan dengan winter solstice yang dirayakan oleh kafir tradisional eropa utara (yang ketika kristen masuk eropa kemudian diadaptasi jadi perayaan natal).
di alkitab kan udah dibilangin, tuhan yesus aja gak tau kiamat kapan. katanya sih tunggu semua orang denger kabar baik dulu baru tiba kesudahannya, karena tuhan gak pengen satu orang pun binasa. yasud… kalo menurut aku sih hidup mah dijalanin aja sebaik-baiknya… tanggung jawab atas diri sendiri & keluarga tapi juga peduli pada orang susah & temen2 yg belum denger kabar baik… berencana seolah tuhan datangnya masih kapan-kapan tapi bertindak seolah tuhan datang malam ini.
for the rest… film aja kok ribut.
M** belom nonton koq wes komentar…
ndeso… pikirane sempit…
sutralah…
@Grace, setuju…. sebenernya message-nya yang paling penting ya itu, bagaimana kita mau hidup. Film mah bwt hiburan ajah…
@Nenk, embeerrr….
ya mba.. setuju bgt..
pada awalnya semangat bgt mau nonton film ini habis udah ditunggu2 dari 2 bulan yang lalu.. setelah nonton jujur ada senang dan ada kecewanya dengan film ini. jika dilihat dari visul, animasi effect, dan sound effect ok baget sipp.. tapi dengan menitikberatkan pada jalan cerita tidak ada satupun yang mengena dan didapat serta terbenan didalam hati hanya didalam pikiran sementara saja.
Aku yo heran, napa kok pada ribut yak? Cuman aku kok lebih tertarik film Armageddon daripada 2012. Film 2012 ini terlalu banyak kebetulan, dan lakonnya terlalu amat sangat super duper makhluk paling beruntung. Mungkin aku cenderung mengakui film yang masuk akal, seperti Armageddon kejadian buruk yang menimpa bisa diterima akal sehat karena fenomena alam. Sedang 2012 terlalu dipaksakan lakonnya harus hidup jadi malah tak masuk akal hehehehe.
Mengenai kalender maya sendiri mengatakan bahwa tahun 2012 bukanlah akhir dunia, tapi memasuki tatanan tahun baru berdasar long count, istilahnya siklus seperti tahun baru. Suku Maya sendiri tidak pernah mengatakan bahwa 2012 merupakan akhir dunia, saya membaca beberapa penelitian berdasar transkrip long count dikatakan bumi memasuki fase kehidupan baru (tahun baru berdasar long count), tetapi tak pernah menyebutkan bahwa dunia akan hancur atau kiamat. 2012 menjadi film kiamat karena memang dihembuskan untuk komersialisasi launching film 2012 dan benar2 sangat berhasil.
Dalam menghadapi kiamat menurut aku sendiri, setiap manusia atau makhluk hidup memiliki tanggal kiamat sendiri2. Mungkin si A hari ini kiamat, si B tahun depan, si C sekian tahun lagi, nobodies know. Jika kita saat ini sudah melakukan hal yang baik di kehidupan ini, mengapa musti takut? Tuhan selalu memberikan pengampunan kepada orang2 yang bertobat, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan anak dombanya hilang tanpa harapan. So hikmah dari film ini seharusnya… mumpung masih hidup, hendaklah kita isi kehidupan ini dengan hal2 yg baik dan berguna, baik untuk kita sendiri maupun untuk sesama, bahkan untuk bumi dimana kita berpijak.